Kamis, 25 Mei 2017

Tentang Panci Yang Jadi Banci



    Panci yang dalam bahasa inggris bernama saucepan adalah alat masak yang terbuat dari logam (alumunium, baja, dll) dan berbentuk silinder atau mengecil pada bagian bawahnya. Panci bisa memiliki gagang tunggal atau dua "telinga" pada kedua sisinya dan biasanya digunakan untuk memasak air, sayur, bahkan nasi sekalipun saat priuk masih kotor.
Bagi orang dengan akal masih dalam keadaan sehat, panci digunakan sebagaimana mestinya, dan rute aktivitasnya tidak lebih dari dapur dan tempat cuci. Sesekali panci piknik keluar manakala dibutuhkan oleh mereka yang bepergian dan mengharuskan makan di luar (tempat yang dituju) seperti saat piknik, disitu panci sedikit senang, selain karena keluar dapur, juga karena naik mobil.


Ah Panci....

Panci yang seharusnya sering berada di dapur, kini mulai menampakan diri dengan memunculkannya di tengah kerumunan masa. Sepertinya pengguna kurang begitu waras, bahkan bisa dibilang otaknya bolong karena didoktrin, bahwa " Panci Bisa Masuk Surga", bahkan, dengan lantang mereka menyebut panci beragama dan dianggap paling baik, suci, dan bijak versi mereka. Tidak tanggung tanggung mereka meyebut selain panci adalah Kafir. Ah... haruskah priuk, kuali dll kafir? Disitu kadang orang berakal sehat bingung juga tertawa.
Orang denga otak bolong (ODOB) kemudian menggunakan jasa panci untuk bisa mengantarnya masuk surga.
Panci yang seharusya sebagai alat masak kini berubah menjadi peneror yang mematikan karena digunakan oleh mereka yang suci dan memberikan agama bagi panci. Doktrin yang diterima dan diperoleh juga mereka dapat dari sang guru yang ternyata penderita ODOB yang jauh-jauh kuliah mengambil gelar di Perguruan Tinggi ODOB. Panci pada perguruan tersebut ternyata tidak sebagai alat masak. Ow No.....
Panci itu satu dari sekian bahan untuk merakit bom, yang kemiudian akan diledakan di tengah kerumunana masa yang semuanya berakal sehat segar bugar.

Kaum penganut paham Panci
Penderita ODOB merasa menang juga senang, selain karena panci dianggap suci, juga karena panci mematikan dan akan mengantar mereka ke surga. Oh...tentu itu surga yang tak dirindukan oleh kita yang otak waras.
Peristiwa 27/2/2017 satu dari rangkaian peristiwa yang dibuat oleh penderita ODOB yang merakit bom panci di Bandung, yang mungkin sekarang pelakunya berada di Surga yang tak dirindukan. Tanggal 24/5/2017 menyusul peristiwa bom bunuh diri di Kampung Melayu, dari saku pelaku ditemukan struk pembelian panci.
Apa suatu pernyataan salah jika kita yang waras menyebut mereka sebagai "penganut paham panci?" yang ingin masuk Surga Yang Tak Dirindukan?
Itu bom panci, bukan banci....
Gara - gara salah menyimak, Kakek Kotaro menyebutnya bom Banci......

Kamis, 10 September 2015

Wae Rebo

Ada yang menarik dari kisah perjalanan kami menuju Wae Rebo, Pak Kuma, selaku koordinator kabupaten WAJAR 9 TAHUN DIKDAS, hampir jatuh pingsan sebanyak 4 kali. Wow....kejadian yang terjadi tidak sedikit jumlahnya, semua itu teratasi berkat semangat teman-teman setim,
Foto ini ketika saya dan teman-teman berada kurang lebih 500 meter dari kampung Denge.

Begini situasinya, ketika kita tiba di pos 1, kurang lebih 2 km dari kampung Denge menuju Wae Rebo.
Oh ia...ini yang lupa diposting, ini gambaran singkat medn menuju Wae Rebo sebelum tiba di Pos 1,
Ketika tiba di Pos 1, lelah diabaikan dulu, lansung minta salah satu anak sd untuk memfoto saya, hasilnya ini,,,,lelah disembunyikan......
Di tengah hutan rimba, masih sempat narsis......
Inilah pemandangan yang tampak ketika tiba di Pos 2, semua tak tersembunyikan......aseeeeeekkkkk.....

Background yang eksotik,,,,tidak kutemukan di  lain tempat, di sini, dan hanya di sini.....
Dalam perjalanan bertemu sepasang turis asing, minta foto dulu ah.......
Tiba di Pos 3, dari tempat ini mulai tampak bagian ujung dari Mbaru Niang Wae Rebo, ada yang menarik nih teman-teman, di tempat ini (Pos 3) terdapat gentongan, yang dalam bahasa setempat disebut Pepak. Pepak ini yang nantinya akan mengabarkan kepada warga Wae Rebo, bahwa akan kedatangan pengunjung yaitu dengan cara menggoyangkan pepak tersebut.
Saat tiba di Wae Rebo, kita lansung ke salah satu rumah niang, yakni rumah yang dijadikan rumah gendang atau Mbaru Tembong dalam bahasa setempatnya.
Suasana pagi Wae Rebo, sangat amat eksotik, suasaana langka di bumi Manggarai
Setiap momen tak pernah terlewatkan ketika berada di Wae Rebo hingga tiba saatnya kita pulang.......

Setelah meninggalkan Wae Rebo pada Hari Minggu, 19 Agustus 2015 pukul 08.00, kita lansung meluncur kembali ke Denge untuk melanjutkan ekspedisi menuju Pulau Mules...
Ada pemandangan menarik jauh di belakang saya, itu bocoran tampak Pulau Mules
Di atas perahu selepas dari Dintor menuju Pulau Mules,
Turun dari perahu, lansung menginjakan kaki di pantai Labuan Ntaur dengan manjaan pasir putih yang begitu indah, di belakang saya itu Pulau Flores Loh teman-teman, tepatnya kampung Kenjoruk.

Sampai  disini dulu ekspedisi kita sahabat.....merasa penasara, silahkan kunjungi lansaung Wae Rebo, rasakan sensasi hidup serba natural....dijamin pasti puas.....
Wae Rebo & Pulau Mules, 8-9 Agustus 2015.....